TETAP BRSYUKUR DI TENGAH WABAH COVID-19

  Disukai 3x   Dilihat 53x

10:57 am

refleksi

sumber ilustrasi : Kitab an-Nashaihud-diniyyah Wal-Washaya Al-Imaniyy
Sumber : Kitab an-Nashaihud-diniyyah Wal-Washaya Al-Imaniyyah. Penerbit PT. Karya Toha Putera, Semarang
Penulis : ARIF ZAIN
RPP terkait : Kuperteguh Imanku Dengan Ibadah

TTETAP BRSYUKUR DI TENGAH WABAH COVID-19 

 

Syukur itu merupakan derajat yang mulia dan pangkat yang tinggi di hadapan Allah swt., sebagaimana firman-Nya :  

 فَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (Q.S. Annahl/16:114)

Adapun Syukur itu sendiri adalah, adanya perasaan terhadap keberadaan nikmat pada diri yang terwujud dalam bentuk peningkatan amal ibadah dan pendekatan diri kepada-Nya, terutama di masa-masa seperti sekarang ini kita diuji dengan terpaan wabah Corona Virus Desease 2019 (COVID-19). Tanda syukur lainnya adalah, memperbanyak ucapan syukur dan terima kasih kepada Allah walaupun saat ini kita masih berperang melawan Covid-19, bahwa kita ketahui banyak hal yang berubah mulai dari cara kita berinteraksi sosial, beribadah, bahkan proses pembelajaran di sekolah-sekolah dilakukan dari rumah, sampai hal-hal yang kecilpun kita terbatasi oleh keadaan.

Dalam keadaan musinah seperti yang kita alami ini, kita tetap berusaha memaksakan diri kita untuk senantiasa menunjukkan rasa syukur kita melalui lisan kita. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: “Sekiranya salah seorang dari ummatku diberi dunia dan isinya, kemudian ia mengucapkan alhamdulillah, niscaya ucapan alhamdulillah itu lebih utama dari dunia dan isinya. ”Justru di balik terpaan wabah ini, bisa semakin mendewasakan kita dalam segala hal, serta memperbarui cara pandang kita terhadap sesuatu. Salah satu contoh, sebelum adanya wabah Covid-19 ini kita sebagai seorang guru tidak terbiasa dengan sistem pembelajaran daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan) sebab bersentuhan dengan yang namanya (IT) / IPTEK, yang menggunkan computer dan media-media elektronik lainnya. Sehingga dengan usaha yang tinggi, mau tidak mau kitapun sebagai seorang guru dituntut untuk bisa memproyeksikan media-media yang ada. Al-hasil, dengan daya upaya yang maksimal kita semua bisa menampilkan hasil yang memadai serta sesuai dengan capaian kita sebagai seorang guru. 

Inilah yang dinamakan satu bentuk kesyukuran, yang bagi orang beriman kepada Allah swt., akan senantiasa mensyukuri nikmat-nikmatnya sesuai dengan rasa dan karsanya masing-masing, walaupun dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Kemudian di satu sisi yang perlu kita syukuri pula, para siswa pun di dalam mengikuti proses pembelajaran tidak merasa jenuh dan bosan. Orang tua siswa juga merasa tenang dan aman dengan adanya kebijakan sistem pembelajaran jarak jauh (luar rumah) dari pemerintah. Al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata: “Bentuk kesyukuran lainnya ialah, senantiasalah memandang besar sesuatu nikmat, meskipun kecil. Disebabkan pandangan kita tertuju pada keagungan penganugerahannya, yakni Allah swt.” 

Oleh karena itu, sesungguhnya Allah swt. telah menganugerahkan berbagai bentuk nikmat kepada hamban-Nya, yang semua itu tak terhitung banyaknya, baik yang besar maupun yang kecil, setiap hamba tidak akan mampu menghitung nikmat-nikmat yang diterimanya setiap hari, apalagi bersyukur kepada Allah atas setiap nikmat itu. Hendaknya sebagai orang mu’min kita tidak boleh melihat saudara kita dengan pandangan iri dan dengki atas segala kelebihan yang dikaruniakan Allah kepadanya, justru ini menjadi cambuk buat kita untuk lebih memaksimalkan kompetensi kita (khusus kita sebagi guru) yang tadinya “gaptek”, ke depan kita jadi mahir teknologi. Sebab perasaan iri hati, akan menyebabkan diri kita tidak mampu menghargai karunia nikmat yang dikaruniakan oleh Allah buat kita, sehingga jangan sampai kita memperkecil arti pemberian-Nya yang membuat kita lalai untuk bersyukur kepada-Nya. 

Allah swt. telah melebihkan sebagian hamba-Nya atas sebagian yang lain, disebabkan beberapa rahasia dan nikmat tersembunyi yang tidak akan bisa diketahui oleh seorangpun kecuali Dzat-Nya semata. Dalam perbuatan-Nya itu, terkadung banyak manfaat dan maslahat bagi hamba-Nya, yang tidak dibuka rahasia-Nya kepada mereka. Oleh karena itu, sebaiknya sebagai hamba yang beriman kepada Allah swt., seyogyanya bersikap ridha terhadap bagian yang telah ditentukan Allah kepadanya. Sama halnya dengan kita saat ini dicoba dengan ujian wabah yang mematikan, yang telah merenggut jutaan jiwa manusia. 

Mari ikuti protocol kesehatan, tetap jaga jarak, cuci tangan pakai sabun, hindari kerumunan, rajin berolah raga, banyak konsumsi buah-buahan dan jangan lupa gunakanlah masker jika terpaksa keluar rumah. (Guru Mapel, Al-Qur’an Hadits, Arif zain, S.Ag Satminkal MTs. Al-Khairaat, Baluase). 



Cari Artikel Lain

Artikel terkait lainnya