PENTINGNYA SIFAT TASAAMUH ( TOLERAN )

  Disukai 2x   Dilihat 50x

3:06 am

refleksi

sumber ilustrasi : Ilustrasi buku paket Al-Qur'an Hadits
Sumber : Buku paket Al-Qur’an Hadits kelas VII, Penerbit PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri 2014 dan Erlangga
Penulis : ARIF ZAIN
RPP terkait : sikap toleranku mewujudkan kedamaian

TASAAMUH ATAU TOLERAN   

 

Tasaamuh berasal dari akar kata bahasa Arab yakni; تسامح – يتسامح yang artinya saling memudahkan urusan, atau suka berlaku baik. Sedangkan kata tasaamuh jika di Indonesia dikenal dengan istilah toleransi. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), toleran ialah sifat atau sikap suka menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendiriannya sendiri. Dengan kata lain, toleran berarti memberi kebebasan kepada orang lain untuk bersikap atau berpendirian sesuai dengan keinginannya. 

Setelah memahami kedua definisi di atas, (tasaamuh dan toleran), maka dapat kita ambil satu pemahaman bahwa sikap tasaamuh atau toleran pada dasarnya memilki makna yang sama. Sikap tasaamuh atau toleran harus senantiasa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, sebab menghiasi perilaku kita dengan sifat ini, akan mewujudkan ketenangan, kedamaian dan bahkan kebahagiaan bukan saja di dunia tetapi akan kita rasakan sampai di alam akhirat nanti. Orang yang melazimkan dirinya dengan sifat mulia ini menandakan bahwa dia cinta akan kebaikan, cinta akan kedamaian, maka sudah sewajarnya di mata semua manusia (makhluq) dia akan di muliakan, dan dijuluki manusia yang baik. Sebagaimana Baginda Rasulullah SAW bersabda dalam Hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Amr r.a

«خَيْرُ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ » yang artinya: “Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah yang paling baik di antara mereka terhadap sesama saudaranya”. Dalam riwayat yang lain, dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang membuat semua orang muslim selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya”. (H.R. Bukhari dan Muslim). Riwayat lain Nabi saw bersabda : “مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ . Artinya : “ Barang siapa yang tidak mempunyai kelembutan, berarti ia tidak mempunyai kebaikan. “ (H.R. Muslim). Referensi: https://almanhaj.or.id/3195-berkasih-sayang-dan-lemah-lembut.html. 

Berdasarkan hadis-hadis tersebut mustahil jika ada seseorang yang mengatakan bahwa dia dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang diciptakan Allah swt, sehingga kehidupannya tidak akan lepas dari interaksi dengan orang lain. Baik ayah, ibu, istri, suami, anak, saudara, teman, tetangga, dan relasi lainnya. Dalam berinteraksi, pergesekan akan sangat mungkin terjadi. Jika tidak diantisipasi dengan baik hal ini dapat menimbulkan konflik. Misalnya dalam hal kita bertetangga, apabila seseorang tidak berhati-hati dalam bersikap dan berucap, maka sudah pasti akan sering terjadi kesalahfahaman. Karena di antara masing-masing individu memiliki perbedaan-perbedaan yang apabila kita tidak saling menghargai perbedaan tersebut, malah hanya ingin menang sendiri, merasa baik sendiri, merasa benar sendiri, maka tali silaturrahiim (tali persaudaraan) pasti akan terputus, dan kerukunan tidak mungkin lagi terjalin dengan baik . Oleh karena itu hadis di atas mengajarkan dan sekaligus mengingatkan kita agar lebih berhati-hati dalam memposisikan diri kita sebagai insan (manusia) yang senantiasa berusaha bisa menghargai orang lain, dengan tanpa meninggalkan batas-batas norma agama dan sosial yang berlaku.    

Kita tutup artikel ini dengan sebuah hadits Rasulullah saw., dari Ibnu Abbas r.a. yang berbunyi :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ اْلأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ

Yang artinya: “Ibnu Abbas r.a., berkata, bahwa Rasulullah saw pernah ditanya oleh seseorang, “Agama manakah yang paling dicintai Allah swt,?” Beliau menjawab, “Agama yang lurus dan tasaamuh (toleran).”H.R. Ahmad”

Sistem pembelajaran yang kami terapkan selama masa pandemi berlangsung, yaitu dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

  1. Tema pembelajaran. Adapun tema pembelajaran yang kami sampaikan sesuai dengan RPP terkait adalah, Sikap Toleranku Mewujudkan Kedamaian, dimana siswa dapat menunjukkan dan menerapkan sikap toleransi secara nyata dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
  2. Tujuan Pembelajaran: Setelah mengikuti proses belajar mengajar peseta didik diharapkan mampu :

Memahami isi kandungan Q.S. Al-Kafirun (109), dan Q.S. Al-Bayyinah (98)

– Menulis hadis tentang sikap tasaamuh

– Menerjemahkan hadits tentang sikap tasaamuh

– Mengafalkan hadis tentang sikap tasaamuh   

  1. Media dan Sumber Pembelajaran :    

– Menggunakan Hp atu WA Group untuk memudahkan akses pembelajaran walaupun masih ada kendala-kendala yang ditemui, contoh: masalah jaringan, serta masih kurangnya siswa yang memiliki HP Android karena keterbatasan ekonomi orang tua.

Refleksi pembelajaran yang kami lakuan adalah dengan menyampaiakn beberapa pertanyaan, sebagai berikut:

  1. Di masa pandemi seperti sekarang ini, kita tidak bisa berjabatan tangan, lalu bagaimana cara kalian menyikapi hal tersebut dengan tetap menjaga sikap toleran?
  2. Apa arti dari kata tasaamuh, dan bagaimana korelasinya (hubungannya) dengan istilah toleran?

Tugas dibuat dengan metode yang menarik, melalui Google Form, dengan menggunakan Hp/Laptop, sedangkan bagi siswa yang belum memiliki media belajar, maka dapat bekerja sama dengan teman yang terdekat di wilayahnya masing-masing.  

Sesuai uraian dari sistem pembelajaran di atas, faktor yang paling dominan adalah dimana keadaan siswa belum sepenuhnya menerima perubahan, yang dulunya terbiasa dengan sistem tatap muka secara langsung dengan guru, bertanya secara langsung, sehingga direspon oleh guru. Tetapi saat ini untuk bertanya siswa sulit, disebabkan beberapa kendala, seperti jaringan kurang baik, melalui video call pun suara terputus-putus, koneksi internet lambat, dan sebagainya.

  

Demikian artikel ini dibuat semoga banyak manfaatnya untuk kita semua, dan selama masa pandemi masih berlangsung mari kita bersatu untuk memutuskan mata rantai penyebarannya dengan cara tetap menjaga protokol kesehatan, seperti senantiasa mencuci tangan dengan sabun, physical distancing, menghindari kerumunan, sering berolah raga, makan buah-buahan, jaga jarak, dan jika terpaksa keluar gunakanlah masker.

 (Guru mapel : Al-Qur’an Hadits, Arif zain, S.Ag, MTs. Al-Khairaat, Baluase. Kec. Dolo Selatan. Kab. Sigi-sulawesi Tengah) 

 



Cari Artikel Lain

Artikel terkait lainnya