Keseimbangan Hidup di Dunia dan Akhirat

  Disukai   Dilihat 23x

2:32 am

refleksi

sumber ilustrasi : google
Sumber : Hj. Nuralang Kobeh
Penulis : HJ. NURALANG K
RPP terkait : Keseimbangan hidup di dunia dan akhirat

Indonesia masih terus berusaha keras melawan virus corona hingga saat ini, sama dengan negara lain di dunia. Jumlah kasus positif virus Corona terus bertambah seiring bertambahnya pasien yang sembuh. Akan tetapi kasus-kasus kematianpun terus bertambah. Tindakan pencegahan terus dilakukan demi melawan COVID-19.

Dengan adanya virus ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kehidupan di dunia ini tidak selalu berjalan mulus sesuai apa yang kita fikirkan. Pasti akan ada beberapa rintangan dan cobaan dan berbagai kendala. Kita harus terus memperbaiki diri dan bertaqwa kepada Allah. Makhluk yang Allah ciptakan di dunia ini berpasang-pasangan ada siang ada malam, ada bumi ada langit, ada matahari ada bulan ada laki-laki ada perempuan supaya mereka saling kenal mengenal, saling menyangi, mencintai, tolong menolong, memberi manfaat untuk mencari keridhoaan Allah Swt. agar keseimbangan kehidupan seorang insan tercapai, bahagia di dunia dan akhirat.

Diuraikan dalam hadist riwayat Ibnu Asyakir yang artinya tentang keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. “Dari Anas ra, bahwasanya Rasulullah Saw. telah bersabda, “Bukanlah yang terbaik di antara kamu adalah orang yang meninggalkan urusan dunianya karena (mengejar) urusan akhiratnya, dan bukan pula (orang yang terbaik) adalah orang yang meninggalkan akhiratnya karena mengejar urusan dunianya, sehingga ia memperoleh kedua-duanya, karena dunia itu adalah (perantara) yang menyampaikan ke akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban orang lain.” 

  Dunia adalah sarana yang akan mengantarkan manusia ke akhirat. Manusia hidup di dunia memerlukan harta benda untuk memenuhi hajatnya, manusia perlu makan, munum, pakaian, tempat tinggal, berkeluarga dan sebagainya. Semua ini harus dicari dan diusahakan. Harta juga bisa digunakan untuk bekal beribadah kepada Allah Swt., karena dalam pelaksanaan ibadah itu sendiri tidak lepas dari harta. Contohnya sholat memerlukan penutup aurat (pakaian). ibadah haji perlu biaya yang cukup besar. Dengan harta kita bisa membayar zakat, sadaqah, berkurban, menolong fakir miskin dan sebagainya.

Kehadiran kita di dunia ini jangan sampai menjadi beban orang lain. Maksudnya janganlah memberatkan dan menyulitkan orang lain. Dalam hubungan ini, umat Islam tidak boleh bermalas-malasan, apalagi malas bekerja untuk mencari nafkah, sehingga mengharapkan belas kasihan orang lain untuk menutupi keperluan hidup sehari-hari. Pandangan hidup untuk berkompetisi berdasarkan pada teori Survival of the fittest (keberlangsungan hidup bagi yang terkuat) membuat manusia merusak harmoni kehidupan. Ketidakpercayaan pada nikmat Allah yang tiada terhitung membuat manusia membunuh sesama makhluk Allah demi memuaskan kebutuhannya.

Dari artikel diatas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa kehidupan dunia dan akhirat bagaikan mata rantai yang tak terpisahkan, kehidupan dunia harus dinikmati sebagai rahmat Allah, dan dijadikan persiapan untuk menuju kehidupan yang hakiki yang penuh kebahagiaan.



Cari Artikel Lain

Artikel terkait lainnya