Balapan Sadar Belajar atau Pasrah pada Keadaan

  Disukai
  Dilihat

7:21 pm

refleksi

sumber ilustrasi : canva
Sumber : Ademilde Silveira Sartori (2009). Communication in the Distance Education Interaction Modes and the
Penulis : AMRI MUJI HASTUTI
RPP Terkait : Rencana Pembelajaran Online Mengkomunikasikan Ide
Jenjang : SD/MI
Kelas : 1
Mapel : Guru Kelas Rendah

Mari kita membayangkan ilustrasi kejadian di rumah saat belajar jarak jauh. Orang tua mengingatkan anak bahwa ada tugas guru yang harus dikerjakan. Orang tua membuka grup whatsapp kelas dan menemukan tagihan-tagihan dari guru yang harus dipenuhi. Anak diminta membantu tugas rumah, praktik mencuci tangan, dan merekam video pendek mengirim salam untuk teman-teman. Orang tua menyiapkan anak di depan kamera, membaca catatan yang sudah disiapkan untuk dibacakan dan orang tua merekam kata-kata yang meluncur dari mulut si anak setelah merapikan pita rambutnya. Orang tua juga menyodorkan gagang sapu dan meminta anak mengusap lantai dengannya agar guru senang. Proses semacam ini meninggalkan proses terpenting dari belajar yaitu mendorong perhatian dan memotivasi anak.

Komunikasi satu arah dari guru sebagai pengirim pesan, dan siswa bersama pendamping belajarnya di rumah sebagai penerima pesan akan membawa hasil pendidikan ke kawasan aktivitas tanpa makna. Siswa tak tahu apa arti tindakan yang dilakukannya dan untuk apa. Belajar semacam ini tak boleh terjadi di kelas-kelas belajar kita di masa pandemi covid-19. Anak akan mudah belajar saat mereka tahu mengapa mereka harus mempelajarinya. Alternatif yang baik dari skenario di atas adalah guru atau orang tua berkata bahwa teman-teman pasti rindu karena lama tak bersua. Anak ditanya kegiatan apa yang biasa dia lakukan dengan temannya, dan apa yang paling dia rindukan, lalu apa yang akan dikatakannya jika bertemu teman sekarang. Anak akan lancar menyapa teman-temannya dan bercerita kegiatannya selama belajar di rumah, namun dia tetap merasa rindu pada teman dan guru.

 Anak diajak berpikir tentang lantai yang begitu kotor dan kita tak yakin tak ada virus atau bakteri di sekitar rumah. Orang tua mengajak siswa memerangi kuman jahat. Tak adil jika kita sekadar menyuruh dan memaksa mereka. Pembelajaran semestinya melewati proses secara alami dan masuk akal bukan? Jika kita mengabaikannya artinya kita tak cukup menghargai kapasitas intelektual maupun kecerdasan emosional anak yang berkembang pesat dengan bimbingan tepat.

Pembelajaran jarak jauh memerlukan teknologi informasi dan komunikasi, namun tak semua aspek pendidikan dapat dijamin tercapai dengan menggunakan teknologi informasi paling canggih. Kunci dari segala upaya pendidikan adalah strategi belajar, dan media selalu sebagai sarana pendukung. Media sederhana dan termudah dapat digunakan untuk mengembangkan potensi siswa sebagai pembelajar dengan tetap berpedoman pada pemberian kesempatan siswa terlibat dalam proses belajarnya. Pendidikan tradisional maupun pendidikan modern yang mengaktifkan siswa tidak selalu tergantung pada secanggih apa teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan. Artinya penggunaan teknologi bisa saja kembali pada praktik pendidikan tradisional yang menempatkan guru sebagai pusat belajar dan siswa secara pasif mengerjakan tugas-tugas yang dikirimkan lewat teknologi.

Dalam pandemi covid-19 guru menghadapi tantangan baru untuk menyelenggarakan pendidikan daring, sebab proses belajar mengajar di sekolah ditutup. Pembelajaran daring tersebut adalah upaya yang memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik dan tetap memperhatikan pendidikan yang baik, bukan hanya asal diberi kegiatan dan tugas. Hal pertama yang disiapkan guru adalah rencana pembelajaran.

Rencana untuk kelas satu sekolah dasar dititikberatkan pada kegiatan membaca. Tak terbayangkan jika selama sekolah ditutup, lantas para siswa yang mulai lancar membaca atau dapat mengeja huruf tiba-tiba lupa karena guru dan orang tua melupakan hak setiap anak untuk tetap mendapatkan pendidikan di masa pandemi ini. Rencana berdasarkan metode pembelajaran yang kolaboratif, komunikatif agar siswa menemukan kebermaknaan dan materi kontekstual dengan kehidupannya. Sebelumnya guru membangun komunikasi dan sugesti positif kepada orang tua tentang betapa pentingnya menguatkan hati di saat sekarang agar anak-anak tetap mendapatkan porsi belajar yang tepat dan terukur, serta rutin. Setelah menyatukan visi dan misi dengan orang tua, guru mulai menyusun rencana belajar yang mengobati rindu anak-anak akan sekolah.

Pada awalnya guru telah mempraktikkan penugasan yang disambut gembira dengan penyelesaian secara tepat waktu. Selanjutnya memasuki bulan kedua motivasi ditengarai menurun disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor paling dominan adalah kejenuhan dan kesulitan orang tua membagi waktu antara bekerja dan membantu tugas sekolah anak. Penayangan pendidikan TVRI mulai membuka komunikasi baru meskipun beberapa orang tua mengaku tak bisa mendampingi anak menonton siaran di jam pagi. Komunikasi justru terjadi di grup whatsapp menyusun sinopsis Sahabat Pelangi selama beberapa episode. Anak dengan bantuan orang tua melengkapi sinopsis. Membangun pengetahuan bersama melalui kontribusi ide mulai terjadi.

Satu-satunya masalah dari penayangan program edukasi televisi adalah orang tua merasa kurang fleksibel dalam hal waktu sebab mereka wajib di depan televisi pada jam tertentu. Membagi tautan untuk menonton siaran ulang terlanjur mendapatkan reaksi negatif dari perasaan yang terlanjur merasa hilang kebebasan dan kemerdekaan belajar. Program yang sebenarnya cukup bermanfaat dan bagus bagi beberapa anak, cocok bagi orang tua yang tak memiliki koneksi internet secara stabil, namun tak disukai orang tua yang bekerja di luar rumah.

Inspirasi dari program tayangan tersebut adalah memaksa guru membuat tayangan yang bisa dibagikan kepada orang tua dan bisa dibuka kapan saja. Penguatan kegiatan literasi menggunakan active presenter dengan presentasi teks cerita yang bisa dibaca antara guru dan siswa menjadi pilihan. Pemilihan bahan cerita yang sesuai dengan perkembangan anak, menarik minat anak, dan mengandung nilai moral yang positif adalah beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Keberagaman siswa juga mendapatkan perhatian dengan membuat video khusus bagi anak-anak yang tingkat kemampuan membacanya di bawah rata-rata kelas. Dengan sedikit lagi latihan mereka diharapkan dapat mengejar ketertinggalannya. Cerita anak dapat dinikmati oleh semua anak terlepas dari capaian kemampuan membaca dari masing-masing anak.

Setelah mendapatkan fleksibilitas dalam kegiatan menonton video, saatnya membuka ruang bagi curah ide. Anak dikuatkan untuk berkomentar apa saja tentang cerita yang baru saja mereka baca. Sastra anak yang baik adalah yang dapat menggerakkan hati pembaca. Hati anak yang tergerak tak dapat tahan untuk tak berkomentar betapa tak baiknya tokoh antagonis dalam cerita, atau betapa melegakan akhir cerita yang mereka baca. Pembelajaran Covid-19 menggunakan whatsapp quiz yang dapat dilihat pada tautan berikut: https://www.opinionstage.com/amri-muji-hastuti/virus-corona. Kemudian pada akhir kegiatan siswa menyetorkan secara verbal namun bukan verbalisme kesan yang mereka dapat. Minimal mereka akan bisa bercerita pada orang lain tentang virus. Tugas guru dan orang tua adalah menjaga iklim belajar yang positif. Penguatan demi penguatan. Kekuatan hati ke kekuatan pikiran yang dilatih sejak awal. Guru sebagai satu-satunya sumber belajar adalah ide kuno. Kelompok siswa dengan fasilitas dan dukungan yang sesuai merupakan sumber belajar berpetualang menemukan dunia yang tanpa batas.



Cari Artikel Lain

Artikel terkait lainnya