Anak Butuh Dipahami di Masa Pandemi

  Disukai 4x   Dilihat 187x

1:01 pm

refleksi

sumber ilustrasi : Download pinterest
Sumber : Buku Panduan Pengasuhan Positip, Kemendikbud
Penulis : YERI DWI WULANDARI,S.PD.M.PD
RPP terkait : Meningkatkan Kemandirian Anak saat BDR

Anak Butuh Dipahami di Masa Pandemi

Sudah 3 bulan anak – anak belajar dirumah. Mau tidak mau guru, orang tua dan anak merubah 360 derajat proses belajar dirumah terlebih di sekolah. Aktivitas pagi yang sudah terjadwal dengan teratur akan berubah dan harus diubah. Kondisi ini tidaklah mudah, perlu tatanan baru bagi orang tua, guru bahkan murid yang sangat terimbas dengan pola belajar yang diberikan guru dari sekolah dan pola belajar yang diambil alih oleh orang tua di rumah. Sungguh perlu pengertian, perjuangan dan komunikasi efektif antara guru dan orang tua untuk melindungi anak dari perubahan aktivitasnya. Seringkali kita dengar  pertanyaan “Ma, kenapa sekolahnya libur lama?”.Dengan narasi yang panjang lebar  orang tua berusaha memberikan deskripsi yang bisa diterima oleh anak.

Belajar dari rumah saat ini adalah alternatif terbaik demi kelangsungan proses kegiatan belajar mengajar. Dan orang tua adalah pengasuh terbaik bagi anak usia dini di masa pandemi Covid-19. Namun hal ini mengalami berbagai macam kendala dari guru, orang tua dan anak. Banyak keluhan dari guru yang kesulitan mengoperasikan android, komputer dengan jaringan intrnet yang tidak stabil, kesulitan mengomunikasikan pesan kepada orang tua, dan juga kesulitan guru dalam menilai perkembangan anak. Di sisi lain keluhan juga datang dari orang tua, mereka kesulitan mendampingi anak dalam belajarnya, tidak memahami strategi jitu dalam memahami kesulitan belajar anak seperti apa yang dilakukan oleh guru, serta mengatur waktu yang terbatas karena harus bekerja diluar rumah, dll.

Anak perlu dipahami disaat masa pandemi ini. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua dalam menjalani pembelajaran dari rumah, misalnya :

  1. Menciptakan suasana rumah yang aman, nyaman dan menyenangkan. Semua sudut ruangan dalam rumah bisa dijadikan tempat belajar, di ruang tamu, dapur, kamar tidur, ruang makan bisa dieksplor menjadi bahan ajar yang mudah dilakukan oleh anak dan tidak memberatkan orang tua. Namun tetap dipilih tempat yang aman contoh mendampingi anak didapur tanpa menghidupkan kompor, menjaga anak dari benda tajam dan benda yang mudah pecah. Ajak anak menikmati suasana yang nyaman bersama anggota keluarga yang lain. Ketika mengajarkan anak membaca cerita maka anggota keluarga yang lain mendukung suasana membaca misalnya ayah juga membaca koran, kakak juga menyelesaikan pekerjaan rumahnya.Ciptakan suasana yang menyenangkan dengan tidak memberikan aturan-aturan yang ketat maupun paksaan kepada anak untuk memahami sesuatu. Jika anak bosan belajar di dalam ruangan ajaklah anak berkegiatan di luar ruangan seperti menyapu halaman rumah, senam bersama, bersepeda di sekitar rumah dll.
  2. Orang tua menyiapkan berbagai kegiatan yang mengarah pada kecakapan hidup seperti mampu menolong dirinya sendiri ( pakai baju sendiri, pakai sepatu sendiri, bisa melipat baju, dll) pembiasaan hidup bersih dan sehat (membantu membereskan tempat tidur,
  3. Tidak membandingkan dengan anak yang lain. Karena anak diciptakan unik maka orang tua harus memahami potensi yang ada dalam diri anak sekalipun itu dengan saudara sendiri apalagi dengan anak orang lain. Hal ini akan menyebabnkan anak terluka dan merasa rendah diri. Anak memerlukan perhatian dan dukungan sehingga mereka dapat berkembang secara optimal.
  4. Orang tua juga harus berinovasi. Selain alat-alat yang disediakan guru dalam pembelajaran jarak jauh, maka bagi orang tua juga mencari materi yang lebih banyak dalam mengembangkan pemahaman anak. Misalnya saja dalam mengenalkan benda-benda yang ada di kamar mandi, guru hanya menunjukkan sabun, shampoo, handuk, sikat dan pasta gigi. Maka orang tua bisa menambahkan dengan peralatan yang lebih dari itu, yakni cermin, jaring-jaring gosok, sikat kamar mandi, gastok handuk dll.
  5. Mampu menggunakan IT, ketika anak tertarik dengan kegiatan tertentu maka orang tua bisa mencari referensi dari internet. Misalnya anak tertarik dengan kegiatan menyebutkan benda-benda langit, seorang guru hanya memperlihatkan beberapa contoh saja, matahari, bulan dan bintang, karena anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi maka orang tua dapat mencari benda langit lainnya dengan mengakses internet.  
  6. Membangun komunikasi yang positif dengan guru. Kondisi ini mempengaruhi komunikasi antara orang tua dan guru. Dengan bentuk komunikasi berupa teks misalnya dalam Whats App group. Guru juga memperhatikan bahwa efektifitas BDR setiap anak adalah berbeda. Hal ini juga merupakan jembatan emas bagi guru dalam memantau perkembangan anak ketika pendampingan di rumah selama pandemi.
  7. Dekatkan diri anak kepada TUHAN YME melalui keteladanan dan pembiasaan dalam keluarga.

Dengan demikian anak akan merasa bahwa belajar dari rumah juga menyenangkan dan tidak membosankan jika dirumah diberikan kesempatan untuk bereksplorasi dengan lingkungan sekitar serta pengasuhan positif sehingga anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang sehat, cerdas, dan berkarakter yang baik.



Cari Artikel Lain

Artikel terkait lainnya